Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisiku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2011

Mata Bajak

: pesan kepada anak


Kau kan tahu,anakku
setelah kau meraya dari kandung menuju kandang
malu telanjang,merasakan pahit ilalang.

Pernah aku menyuruhmu,jangan datang
supaya kau tak salah memaknai,
guratan guratan terjal di tubuh ibumu dan
waktu yang mengering di tapakku,
sebagai hasil kikisan tangismu.

Jangan kau jadi sepertiku,anakku
menggurati ladang ibumu dengan mata bajak tumpul,
menabur benih dengan sedikit irigasi.

Kau kan tahu anakku
setelah kau meraya dari kandung menuju kandang
yang petama ingin kuberi adalah sandang,
supaya kau tak malu telanjang.
Aku akan mengajakmu ke tanah lapang,
dimana ada manis ilalang.
Menyekolahkanmu terbang,supaya tak ada satupun mata bajak yang mengguratmu,
dan mengajarimu mengeja urat ilalang,supaya kau memaknai tiap garisnya,adalah
jerih payahku dan ibumu.

Sabtu, 24 April 2010


Jubah hitam.
Untuk siapa kau berkabung?
Mengapa kenakan pakaian malam di sinar surya?
Apa kena kemelayuh api sedihku.
Atau samar jiwamu dengan jubah itu.


Apabila kau sama daku,berduka tuk hati layu,
mengapa kau cemooh aku?
Apa engkau seorang khotib.
Yng tiap jum'at berkhutbah di mimbar mesjid.

itukah sebab jubah muram kau kenakan,
apa kau seorang mata mata,
mengintip di balik perdu,yang tak dapat menyembunyikanmu,
siapa yang kau pedulikan?
Mungkinkah aku seorang sakit,dan kau tabibku?

Jumat, 01 Januari 2010

berakhir di atas sejadah


Kesunyian malam memuncak,menggandeng senyap.
Bulan 15 yang seharusnya hadir bersama bintang,
terbit dalam langit yang hampa.

Gelap bak malam dalam kantuk membebani mata,
Terjaga kenangan yang membakar
kebahagiaan yang pedih dan keluh kelakar,
Berenang di telaga kelam,

Debu debu tersiram aliran madu
yang sungguh tiada tara menyegarkan,
Sambutan tengadah telapak tangan,
menampung sisa sisa kebatilan dan kelaliman,
Membasahi hingga telapak tanpa alas kaki,

Terpecik diatas sejadah sebuah tetesan permata
yg mencair dalam kebisuan,
tundukan helaian kelembutan diatas kain yang tiada kira nyaman,
Memohon sebuah harapan yang belum terpenuhi,
sekuntum bunga yang mekar sepanjang malam,
Dan tak terlupakan mutiara yang telah IA beri.

Kamis, 17 Desember 2009

Seorang Tua


Duduklah seorang tua di teras rumah,
tengadah memoho pada tuhan,
"Berikan daku harta"
oleh karena gubug tua,
didalammya menunggu keluarga,

Seorang tua bangun dari tidurnya,
kedip perih mata,
seperih musibah limpahinya,
oleh karena gubug tua,
terbawa angin disela jendela,

Seorang tua berjalan dalam gulita,
Menimang cahaya yang didapatnya,
emas ditangan kirinya,
membawa bingkisan tangan kanannya,
Menuju gubug tua,
anak istri didalammya,

Kehangatan berpadu,gembira,
saat seorang tua tiba,bersama,
menanti esok dan lusa.